memilih angkutan ber-ac atau tidak ber-ac bagi perokok

Juli 24th, 2010

berangkat dari surabaya ke kudus dengan bis ekonomi pada tengah malam sepertinya sebuah pilihan yang tepat. tidak panas dan langsung tertidur di tengah perjalanan. tapi ada yang sedikit mengangguku saat itu, asap rokok sangat tebal, walaupun aku seorang perokok, aku terkadang memilih untuk tidak merokok. terkadang memilih bis yang ber-ac dalam perjalanan adalah sebuah pilihan yang tepat, dingin, kursi nyaman, dan pasti aku bisa menghemat rokok. tidak apa apa bayar sedikit mahal demi kenyamanan, dan juga sebenarnya aku bisa berhemat. karena kalau memakai angkutan yang tidak ber-ac, otomatis akan akan sering merokok, dan berakibat harus segera membeli rokok lagi ketika jatah sudah habis.

selanjutnya terserah anda,,

MEMBANGUN GEREJA = MENGUSIK KENYAMANAN KAMI

April 21st, 2010

dsc016211dsc016221

Begitulah sebuah spanduk yang terpampang di sebuah jalan di daerah semowolowaru Surabaya. Spanduk terpampang di tengah jalan, tepat menghadap ke arah pengendara kendaraan yang melintasi jalan itu. Di tahun 2010, penolakan pembangunan tempat ibadah masih saja menjadi masalah. Penulis sebagai seorang muslim, walaupun tidak terlalu religius dan bukanlah seorang muslim yang kaffah, merasa geram juga melihat tulisan seperti itu. Adakah alasan logis kenapa tulisan seperti itu harus dipampang besar-besar dipinggir jalan? orang yang membaca akan menilai tulisan itu sangat kasar, dan kasarnya menjadi tidak bertanggung jawab. Dimanakah nilai demokrasi itu? di dalam demokrasi memang semua orang berhak untuk menyuarakan suaranya dengan sadar, dan dimanakah nilai kesadaran untuk bermusyawarah mufakat? kalau memang demokrasi musyawarah mufakat dinafikkan, mungkin kita masih bisa menjunjung nilai toleransi, tapi dimanakah nilai toleransi itu?

Seminggu yang lalu kita sempat terkejut dengan tragedi Priok jilid 2. Penolakan penggusuran makam yang dilakukan oleh Satpol PP langsung diantisipasi dengan pengerahan massa juga oleh beberapa organisasi (FPI dan FBR). Sentimen yang menjadikan mereka untuk maju bertarung adalah sentimen rasa keagamaan.

Penulis masih ingat dengan buku “Clash Of Civilitation”nya Samuel Huntington. Dimana rasa kebersamaan antara bangsa-bangsa di dunia bukanlah kesamaan antara ideologi politik, tapi akan lebih pada secara sosio-kultural dan agama.

Saya tidak bisa membayangkan apabila konflik agama yang terjadi di Ambon dan Poso sebelumnya, akan terjadi di Surabaya akibat dari pemasangan spanduk ini. Tapi saya rasa tidaklah, orang Surabaya tidak sebodoh dalam menghadapi isu seperti itu.

Tapi satu hal bagi anda yang membaca tulisan ini, Apakah umat Islam di Indonesia sudah terbiasa menjadi mayoritas? sehingga terkadang menyingkirkan yang minoritas?

Apakah Islam sebagai “Rahmatan Lil Alamin” bisa tercapai dengan cara itu?

Sepertinya pesan perdamaian dan kasih sayang dalam agama dapat menjadi suatu instrumen kebencian dan konflik.

“Senyum Indonesia”

April 6th, 2010

Baru saja sampai kembali di rumah ibu pertiwi.  Setelah satu minggu bermain di halaman rumah paman Ho (Vietnam terkenal dengan tokoh Uncle Ho a.k.a Ho Chi Minh dan akhirnya diabadikan menjadi nama kota untuk Sai Gon).
Ketika mau boarding di Tan Son Nhat Airport, sempat bertemu dengan 2 orang bule yang mencari nafkah di Indonesia. Mereka berada di baris tepat dibelakang ku. Mereka sempat mengucap kata “cepat-cepat”, dan aku langsung menolehkan kepala ke belakang untuk melihat ke mereka. Dan salah seorang dari mereka bilang, “aku tidak tahu kalau ternyata di barisan ini banyak yang bisa bahasa Indonesia”, dia tertawa dan aku sempat tertawa terbahak-bahak.
Akhirnya kita mulai pembicaraan kecil. Nama 2 orang itu Neil dan Mandy. Neil dari Edinburgh Skotlandia, kota yang sama dengan  Laura. dan si Mandy, dia berasal dari afrika selatan.
Mereka mengatakan bahwa lebih menyukai orang-orang Indonesia dari pada Vietnamesse, karena lebih ramah dan murah senyum.
Iya sih, orang Indonesia lebih ramah dan murah senyum. Tapi, terkadang senyuman orang Indonesia itu terus-terusan dan bikin orang yang bertamu ke negeri kita jadi risih karena dilihatin dan terkadang seperti  dipelototin mulai dari atas kepala hingga ke bawah kaki, itu menurutku

Jujur ucapan kedua orang asing itu sempat membuatku terharu, bahwa memang betul kata orang - orang asing , orang Indonesia itu murah senyum. Dan satu lagi, mereka merasa senang kembali pulang seperti pulang ke rumah sendiri (Indonesia) .

Halo dunia!

April 6th, 2010

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!